Love is.. Us :) -Kiki&Budi-

Posted: December 28, 2010 in Saat Berdua
Tags:


Kami menyeberang jalan yang macet dengan melewati jarak tipis antara dua buah mobil besar pengangkut. Jalanan sangat padat. Walaupun begitu ada saja pengendara sepeda motor yang bergerak dengan kecepatan tinggi berusaha mengambil kesempatan seperti takut tersusul oleh pengendara lainnya. Membuat kami harus berhati-hati menyeberang jalan.

Menara SyahBandar dari kejauhan

Menara SyahBandar

Kami sudah tiba di seberang. Sambil menoleh ke sekeliling, berusaha mencari bangunan yang kami tuju: Museum Bahari, yang pada awalnya bernama Gedung Westzjidsche Pakhuizen, sebuah gudang rempah-rempah. Agak ke sebelah timur, kami melihat menara Syahbandar, menara yang dibangun tahun 1839 sebagai bagian dari sudut benteng VOC untuk gudang penyimpanan barang yang didirikan di bagian selatan Pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1613. Kami berencana akan ke sana setelah kembali dari museum bahari.

Setelah bergerak beberapa langkah, akhirnya kami menemukan tulisan Museum Bahari tersembunyi di balik jejeran pedagang kaki lima di jalan yang ternyata adalah pasar tersebut. Kami pun menyadari bahwa kami sedang berada di jalan pasar ikan. Dengan bersemangat kami bergegas mencari pintu masuk dari Museum Bahari.

Kami harus bergerak di jalan yang tidak besar itu, bersama puluhan orang lainnya yang hiruk pikuk di sana. Sementara kendaraan bermotor pun ramai mengusir kami dari jalan seolah-olah kami tak punya hak untuk berjalan di atasnya. Terkadang kami harus berjalan miring dan berbanjar beriringan agar dapat melewati para pedagang dan pembeli di pinggir jalan, dan kendaraan bermotor di tengah jalan.

Museum Bahari - Tampak Luar

Setelah menemui sebentuk trotoar di pinggir jalan, kami segera melompat ke sana. Dan di hadapan kami terbentang bangunan panjang, tampak seperti gudang VOC. Gudang-gudang ini mungkin adalah yang dahulu dipakai untuk menyimpan barang dagangan seperti pala, lada, kopi serta teh.

Pintu Masuk Museum Bahari

Kami menyusuri trotoar hingga berada di depan sebuah pintu kayu yang berada sedikit lebih rendah dari jalanan. Kami menduga-duga inikah pintu masuk dari museum Bahari? Ukuran pintu tersebut tidak terlalu besar, untuk sebuah museum yang kami bayangkan megah. Kami bahkan tidak begitu yakin bahwa bangunan yang berada di hadapan kami itulah Museum Bahari yang kami cari. Terlebih karena keadaannya sangat sepi!

Setelah bimbang sejenak, kami melangkahkan kaki melewati pintu bercat hijau memasuki bangunan tersebut. Kami disambut suasana sepi dan dingin. Setelah melewati pintu, kami disambut sebuah meriam kecil yang diletakkan di sebelah kiri, dihadapan sebuah prasasti yang menerangkan mengenai museum Bahari. Di ruangan yang sama, terdapat sebuah meja yang menghadap ke pintu namun diletakkan agak ke sisi kanan kami.

Welcoming Guests

Ruangan tersebut terhubung ke halaman dalam museum yang terbuka melalui sebuah pintu besar layaknya bangunan eropa abad 16. Sebuah tangga kayu tampak berdiri di samping pintu, di belakang meja. Langit-langitnya terdiri dari balok-balok kayu besar, dan merupakan lantai dari tingkat dua.

Seorang pria buru-buru mendekati meja dan meminta kami untuk membayar tiket masuk, seharga dua ribu rupiah per orang. Setelah kami membayar, pria tersebut menujuk ke satu arah di belakang kami sebagai pintu masuk untuk melihat-lihat museum. Ternyata pintu masuknya bukanlah pintu besar di belakang meja yang menuju bagian tengah yang terbuka, melainkan sebuah pintu kecil di sisi kanan ruangan, di hadapan meriam dan prasasti yang tadi kami lewati.

Museum Bahari - Interior

Kami pun beringsut mendekati pintu. Kami lalu memasuki sebuah ruangan luas, aura khas gudang untuk menyimpan komoditi sangat terasa. Kondisi penerangan yang tidak begitu terang membuat suasana menjadi agak mencekam. Kami melihat lihat berbagai benda peninggalan dan gambar gambar yang menggambarkan kehebatan kemaritiman Indonesia pada masa lalu. Kami menelusuri lantai bawah hingga ke ujung, dan memutuskan untuk naik melihat koleksi yang ada di lantai atas. Suasana di lantai atas tidak kalah sepinya. Namun, tak beberapa lama kami ada di lantai atas, serombongan ibu-ibu yang tampak sedang melakukan rekreasi bersama menyusul naik dan menyebabkan suasana cukup ramai. Kami meneruskan perjalanan sambil terus menikmati benda-benda pajangan, hingga ujung dan turun kembali ke lantai bawah. Ternyata tangga yang kami turuni itu adalah tangga yang pertama kali kami lihat ketika masuk ke dalam museum.

Innercourt

Setelah turun, kami masuk ke pekarangan dalam museum. Suasananya baik dan terawat. Dari pekarangan yang cukup luas tersebut, bangunan gudang peninggalan jaman kolonial ini tampak berdiri gagah, dengan pintu dan jendela-jendela besar berjejer. Di dalam area museum terdapat bangunan-bangunan lain. Sebuah merupakan gudang yang terdapat di tengah-tengah pekarangan dan satunya lagi merupakan gudang panjang seperti yang pertama kami masuki tadi.Di dalamnya kami melihat kapal-kapal yang dipajang berderet. Beberapa pintu tertutup dan tidak bisa dimasuki, namun dari celahnya kami melihat barang-barang pajangan museum yang dalam kondisi sedang di rehabilitasi. Di suatu ruangan yang pintunya agak sedikit terbuka kami mencium bau cat dan di dalamnya terdapat perahu yang tampaknya sedang dibetulkan sebelum kembali dipajang.

Menara Syahbandar

Setelah puas berkeliling di dalam museum bahari, kami pun melanjutkan perjalanan. Keluar dari museum bahari kami kembali melewati pasar, menyusuri jalan untuk kemudian singgah di Menara Syahbandar. Pada awal pembuatannya dulu, Menara Syahbandar ini diperuntukkan sebagai kantor pengumpul pajak dari barang-barang yang diturunkan di pelabuhan. Karena lelah, kami memutuskan tidak naik ke atas menara. Kami memilih sebuah tempat di area menara untuk duduk dan beristirahat.


Pintu masuk Museum Mandiri

Kami berhenti tepat di depan gerbang, lalu sebersit kecewa timbul begitu saja. Kami melihat tulisan ”Tutup” diletakkan di depan pintu, dekat seorang pria yang kami asumsikan sebagai satpam penjaga. Tampaknya kami tidak akan bisa masuk ke dalam. Kami mendongakkan wajah menatap pintu bercat kuning emas pada bingkainya, yang ada di ujung tangga, melalui sebuah pintu teralis bercat hijau kusam yang terbuka hanya sedikit saja.

Kami berdiri di depan, berusaha tetap menikmati bangunan tua itu. Lalu akhirnya meneruskan perjalanan. Langkah kami mengarah ke utara, menyusuri Binnennieuwpoortstraat sambil masih menikmati kemegahan bangunan de Factorij Batavia, dan di seberang sana BEOS mengamati kami tanpa kata.

Pojokan Museum BI

Baru beberapa langkah kami jalani, butiran air hujan mulai jatuh dari langit. Seakan beradu cepat mereka ingin segera menyentuh tanah. Hanya dalam hitungan detik hujan turun semakin deras. Kami segera berhenti dibawah pohon di depan gedung peninggalan De Javasche Bank, untuk mengambil payung yang tersimpan di dalam tas. Bangunan peninggalan De Javasche Bank yang megah itu kini digunakan sebagai Museum Bank Indonesia. Sebenarnya museum ini adalah salah satu yang ingin kami kunjungi dan nikmati dari dalam. Namun suasana sepi dan pintu yang tertutup menyambut kami. Ada beberapa orang yang berada di depan gedung nampak seperti para petugas pemelihara yang sedang berteduh dari sergapan hujan yang tiba-tiba deras.

Kami tertegun, memegang payung, sambil berdiri menghadap bangunan yang dibangun pada abad ke 17 itu, tepatnya tahun 1641. Dahulu gedung Museum Bank Indonesia ini digunakan sebagai Rumah Sakit Binnen Hospitaal, hingga pada 8 April 1828 mulai digunakan oleh De Javasche Bank. Antara tahun 1910 sampai 1935 gedung ini pernah mengalami renovasi hingga menjadi bentuk seperti sekarang ini.[1]

Karena tak bisa masuk, kami meneruskan perjalanan ke arah utara hingga pertigaan Binnennieuwpoortstraat dan Javabankstraat (Sekarang Jalan Bank).

Maksud hati ingin menyeberang, namun arus kendaraan begitu derasnya membuat kami tertahan di sana untuk beberapa saat.

Setelah berhasil menyeberang, kami menyusuri Javabankstraat ke arah barat. Melewati sisi selatan Gedung Bekas Kantor Pusat Nederlandsch Indische Escomto Maatschappij, yang juga pernah menjadi aset Bank Dagang Negara.

Sementara itu di seberang jalan tampak memanjang, sisi utara Museum Bank Indonesia dari pertigaan Javabankstraat – Binnennieuwpoortstraat hingga persimpangan Javabankstraat dengan Jalan Kali Besar Timur. Sisi ini dibangun tahun 1924 bersamaan dengan sisi bagian belakang sepanjang kali besar[2].

Serasa Jaman duluuu.. ;)

Sesampainya di pojok jalan Kali Besar Timur dan Jalan Bank, hujan turun semakin deras, butiran air yang turun tampak lebih besar dengan debit yang cepat. Kamipun beringsut maju perlahan ingin mendekat ke jembatan yang menghubungkan Jalan Kali Besar Timur dan Jalan Kali Besar Barat. Tak berapa lama kami sudah berdiri di tengah jembatan tersebut. Meratapi Groote Rivier (kali besar) yang kini telah berwarna hitam dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Kami memandang jauh ke utara. Di ujung sana jembatan kayu Kota Intan tampak tidak jelas karena hujan deras yang sedang berlangsung. Nanti kami akan ke sana.

Ujan2an nyebrang Jembatan

Jembatan yang saat itu kami pijak pada awalnya dibuat bagi orang-orang yang bermaksud pergi ke rumah sakit, namun karena bangunan rumah sakit kemudian digunakan oleh De Javasche Bank, maka jembatan tersebut dikenal sebagai Jembatan Javasche Bank[3].

Sesampai di Jalan Kali Besar Barat, kami disambut oleh bangunan gedung tiga lantai yang dulu bernama Nacionale Handels Bank. Bangunan itu tampak berbeda dengan bangunan lain yang membentuk deretan di sepanjang Jalan Kali Besar Barat. Pada tahun 1939[4],  bangunan tersebut menjadi kantor Chartered Bank of India, Australia, and China.  Pojok gedung Nacionale Handels Bank dibuat lebih tinggi dengan bentuk kubah di atasnya, sebagaimana tipe bangunan pojok pada jaman itu. Seakan teguh menjaga pintu menuju bangunan lain di sisinya, melindungi mereka dari ujung jalan.

Parade Payung 1 - Nacionale Handels Bank

Parade payung 2 – Toko Merah

Hujan yang begitu derasnya perlahan mereda, menyisakan gerimis, memberi harapan akan perjalanan yang masih akan kami teruskan. Kami melangkah menyusuri sisi barat kali besar, melewati bangunan yang dikenal dengan nama Toko Merah. Bangunan tersebut telah berdiri sejak tahun 1730, dibangun oleh Gustaff Baron van Imhoff dan pernah menjadi kediaman sejumlah gubernur jenderal VOC[5]. Gedung tersebut juga pernah menjadi kampus Akademi Maritim (Academiede Marine) yang diresmikan pada 7 Desember 1743 dan menjadi asrama para kadet.

Kali Besar

Kami meneruskan perjalanan ke arah utara. Sepanjang jalan tak henti-hentinya kami menikmati bangunan tua yang berjejer sepanjang sisi barat dan timur Groote Rivier, membayangkan suasana batavia pada masa silam. Nama Batavia itu sendiri dipilih petinggi di negeri Belanda untuk mengenang nenek moyang bangsa Belanda yang berasal dari Jerman, yaitu Suku Batavieren.[6]

Kali besar dibangun oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, sebagai bagian dari Kota Batavia pada abad ke 17[7]. Pada awalnya, kawasan kali besar timur disebut Batavia timur dan kawasan kali besar barat disebut batavia barat, namun kini istilah tersebut sudah tidak digunakan lagi. Kali Besar di zaman kompeni sekitar 400 tahun lalu dengan pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pusat kegiatan perdagangan.

Kami mengira-ngira suasana yang pernah terjadi di wilayah ini, dimana perahu-perahu tertambat di tepian kali besar dan kali besar merupakan sarana transportasi yang bersih dan diandalkan. Sayangnya bangunan yang berjejer di sepanjang kali besar, yang merupakan peninggalan dari abad 18 dan 19 banyak yang sudah rapuh tak terawat.

Bangunan yang kami lewati antara lain Cafe Athena, bangunan kuno ini bertuliskan angka tahun 1927 di bagian atas depannya, dengan kondisi yang masih cukup terawat. Beberapa bangunan dengan lantai atasnya berbahan baku kayu tampak berjejer di sebelah utara dari Cafe Athena. Bangunan-bangunan ini mengingatkan pada model rumah di pecinan yang ada di kota-kota di seluruh dunia. Kondisinya sudah semakin usang. Satu diantaranya sudah tampak rubuh sebagian, wajah langit tampak dari jendelanya, menandakan bagian dalam bangunan tersebut telah ambruk.

Kali besar barat pada awalnya memang merupakan pemukiman Cina, namun kemudian berganti menjadi kantor-kantor perusahaan pada masa kejayaan ekonomi Hindia Belanda[8].

Kami pun melewati sebuah bangunan kuno yang bertanda ”TOP JAYA” dengan salah satu brand elektronik terpampang di atapnya. Bangunan ini dahulu adalah Kantor Aktiva John Peet & Co, yang dibangun sekitar tahun 1920. Lebih ke utara, kami melewati sebuah bangunan yang sekelilingnya ditutupi seng, dan kondisinya yang sudah memprihatinkan. Namun, sisa sisa kekokohannya di masa lalu masih terlihat. Bangunan tersebut adalah bangunan Gedung Samudera Indonesia yang telah runtuh sebagian. Dahulu bangunan ini adalah gedung kantor Maintz & Co juga dibangun sekitar tahun 1920. Posisinya tepat di samping Hotel Omni Batavia.

Jembatan Kota Intan

Gerimis semakin lama semakin pudar, akhirnya kami sampai di Jembatan Kota Intan. Jembatan Kota Intan, dibangun 1628, adalah nama terakhir jembatan gantung tersebut, setelah pada masa silam pernah berganti-ganti nama. Nama lain yang cukup dikenal adalah Hoenderpasarbrug (Jembatan Pasar Ayam). Dinamai begitu, karena pada masa lampau, lokasi didekat jembatan pernah berfungsi sebagai pasar ayam dan sayuran. Jembatan tersebut juga pernah dinamai Engelse Brug (Jembatan Inggris), Het Middelpunt Brug (Jembatan Pusat), dan Ophaalsburg Juliana (Jembatan Juliana).[9]

Perjalanan kami lanjutkan melintasi jalan dan melalui bawah rel kereta, terus menuju utara. Kali ini hujan telah benar-benar berhenti, kami kembali bersemangat untuk menemukan bangunan-bangunan lain yang indah dan menarik. Arah langkah kami berbelok ke arah barat laut, melewati bawah jalan tol, melewati wilayah sepi yang sedikit menakutkan. Bukan karena hantu atau mahluk halus, namun karena suasananya yang mengingatkan pada suasana Bronx, New York, seperti yang ada di film-film Hollywood. Kami bergerak cepat, menuju jalan Kakap.

VOC Galangan

Di jalan Kakap, kami melewati bangunan VOC yang saat ini telah digunakan menjadi Restoran Raja Kuring. Bangunan ini dibangun tahun 1602. Di halaman gedung yang sekarang menjadi tempat parkir mobil, beberapa orang -sudah berusia lanjut- tampak turun dari mobil dan berjalan masuk ke restoran. Menambah kesan ”tua” pada bangunan kuno tersebut.

Sesampainya kami di ujung jalan Kakap, kami menemui bangunan menarik lainnya. Sebuah gedung bertuliskan VOC Galangan, tampaknya bangunan inilah yang dahulunya merupakan bangunan Compagnies Timmer-en Scheepswerf – Bengkel Kayu dan Galangan Kapal Kompeni.


[1] Cyber Museum BI

[2] Ibid 1

[3] Kompas, Senin, 11 Oktober 2004

[4] Kompas, Senin, 7 Desember 2009

[5] jakarta-tourism.go.id

[6] Ibid 3

[7] Ibid 3

[8] Republika, sabtu 8 Juli 2006

[9] Kompas, Selasa, 28 Oktober 2003

Setelah beristirahat sejenak, kami kembali meneruskan perjalanan. Kembali ke arah selatan dan menyeberang jalan. Ketika sampai di Gedung Galangan, kami memutuskan tidak melewati jalan kakap lagi, namun berbelok ke timur dan melewati jalan yang sejajar dengan kali besar, melewati belakang restoran Raja Kuring. Bergegas kami melewati bawah jalan tol pelabuhan, rel kereta, hingga sampai di jalan tiang bendera.

Kami berbelok ke arah timur, melewati jembatan yang sejajar dengan jembatan kota intan, sambil masih saja memandangi dengan kagum pada jembatan kuno tersebut. Akhirnya kami sampai di ujung utara jalan Kali Besar Timur. Kami tidak menyusuri jalan kali besar timur ke arah selatan, namun terus ke arah timur melewati jalan Nelayan Timur hingga sampai di pertigaan dengan jalan Cengkeh.Di jalan cengkeh kami berbelok ke selatan, dan menyusuri jalan sambil tetap berusaha menagkap bangunan-bangunan yang berderet di pinggir jalan, berharap menemukan bangunan kuno yang indah.

Jalan Pos Kota

Setelah beberapa saat berjalan di jalan Cengkeh, kini kami dapat melihat Museum Sejarah Jakarta atau juga bernama Museum Fatahilah, ada di ujung jalan. Kami bergegas menuju kesana dengan penuh semangat. Sampai di petigaan jalan Cengkeh dan Jalan Kunir, kami tidak langsung menyeberang. Setelah melihat kondisi lalu lintas yang cukup ramai, kami berbelok ke timur untuk menemukan posisi yang tepat untuk menyeberang. Setelah menyeberang, kami menyusuri jalan Pos Kota menuju selatan.

Suasana kota tua begitu terasa. Bangunan-bangunan kuno berdiri di sekitar kami, yang ada di sisi barat adalah Kantor Pos Kota, sementara area Museum Seni Rupa dan Keramik, yang dahulunya merupakan Read Van Justitie (Dewan Peradilan / Kehakiman) pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, tampak di sisi timur. Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik itu sendiri dibangun tahun 1870.

Taman Fatahillah

Akhirnya tibalah kami di lapangan Museum Sejarah Jakarta, atau dikenal dengan Taman Fatahilah. Suasana di sini ramai. Sangat kontras dengan perjalanan kami tadi sejak melewati Museum Bank Indonesia, melewati kali besar, apalagi dengan kondisi di Museum Bahari. Pria dan wanita berbagai usia hadir di sini. Didominasi oleh remaja dan pasangan-pasangan yang berekreasi. Beberapa diantaranya berlalu lalang dengan menggunakan sepeda onthel sewaan. Dan di pojok lapangan terdapat kelompok seni sedang mementaskan pertunjukkan kuda lumping.

Kami berjalan ke tengah taman, mendekati pancuran air yang saat itu tidak bekerja. Atau mungkin memang pancuran itu sudah tidak dipergunakan lagi? Sebenarnya air mancur di tengah Taman Fatahilah ini baru dibuat dengan mengikuti foto-foto sejarah yang ada. Pada abad ke 18 memang air mancur yang terdapat di tengah taman digunakan untuk keperluan air bersih masyarakat, namun air mancur yang asli sudah tidak ada lagi. Taman Fatahilah justru pernah digunakan sebagai terminal bis dan oplet pada tahun 1970an.

Perut yang sudah lapar memaksa kami untuk segera mencari tempat untuk membuka bekal. Pelataran depan gedung pun akhirnya menjadi pilihan. Kami membuka bekal sambil menikmati susana luar gedung Museum Sejarah Jakarta dan taman Fatahilah tentunya.  Taman Fatahilah ini dahulu disebut Stadhuisplein atau Taman Balaikota, dan berada tepat di pusat kota Batavia.

Wikipedia mencatat:

Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620 oleh ‘’’Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen”’ sebagai gedung balaikota ke dua pada tahun 1626 (balaikota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua dibangun kemudian hari. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah. Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi lantai dinaikkan sekitar 2 kaki, yaitu 56 cm. Menurut suatu laporan 5 buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung utama diperlebar dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan Timur. Setelah itu beberapa perbaikan dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-penjaranya terus dilakukan hingga bentuk yang kita lihat sekarang ini.

Gedung ini selain digunakan sebagai stadhuis juga digunakan sebagai ‘’Raad van Justitie’’ (dewan pengadilan) yang kemudian pada tahun 1925-1942 gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Propinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 markas Komando Militer Kota (KMK) I, yang kemudian menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakartapada tanggal 30 Maret 1974.

Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ‘’stadhuisplein’’. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC ‘’’Johannes Rach”’ yang berasal dari ‘’’Denmark”’, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungakan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu ‘’’Taman Fatahillah”’ untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta

Di sebelah Barat Taman Fatahillah terdapat deretan gedung tua, dan salah satunya adalah sebuah gedung yang dahulu merupakan gudang milik perusahaan Geo Wehry. yang dibangun pada tahun 1912. Sejak tahun 1939 digunakan sebagai Museum Oud Batavia dan pada tahun 1975 hingga saat ini dijadikan Museum Wayang. Sementara di sebelah Timur adalah Museum Seni Rupa dan Keramik yang sempat kami lihat tadi.

Sementara itu, disebelah Utara Taman Fatahillah terdapat gedung Kantor Pos Kota, gedung bekas PT. Jasindo, gedung bekas milik Dasaad, serta satu bangunan kuno yang difungsikan sebagai Cafe Batavia.

Setelah beristirahat, kami berjalan berkeliling, lalu kembali duduk dan menikmati suasana gedung-gedung di sisi jalan Pintu Besar Utara yang ada di sisi barat Museum Fatahilah. Kemudian kami kembali lagi ke taman Fatahilah dan ikut melihat pertunjukkan yang ada, namun karena langit kembali mendung, kami memutuskan untuk segera pergi. Banyak penjaja makanan yang ikut menyemarakkan suasana di Taman Fatahilah ini, salah satunya adalah penjual Es Potong. Sambil berjalan pulang kami pun memutuskan untuk membeli Es Potong.

Kami keluar dari taman Fatahilah tidak melewati jalan Pintu Besar Utara, namun menyusuri sisi timur dari Museum Fatahilah, melalui Jalan Lada ke arah selatan. Suasana Jalan Lada sangat ramai. Mikrolet dan kendaraan pribadi, serta Bus Kota dan Bajaj beramai-ramai membunyikan klakson. Semuanya ingin duluan.

Di sebelah selatan, kami melihat sisi utara dari Stasiun Kota BEOS. Dan di seberang timur, Kantor Bank BNI 46 tampak besar sekali. Sambil menghabiskan es potong yang tadi kami beli, kami sampai di ujung jalan Lada, yang berbelok menjadi Jalan Stasiun Kota dan kami kembali berada di depan gedung Bank Mandiri Kanwil III Jakarta Kota. Dari tempat kami berdiri saat itu, kami kembali melihat Museum Bank Mandiri, Stasiun Kota dan tentu saja tempat yang kami tuju  di sebelah  selatan, yaitu taman halte Busway Kota.

Agar dapat masuk ke dalam taman, kami menyebrangi Jalan Pintu Besar Utara untuk menuju ujung terowongan bawah tanah di trotoar depan Museum Bank Mandiri. Kami pun turun dengan melewati jalan yang tadi kami susuri ketika baru saja tiba, namun berlawanan arah. Setelah kembali naik melewati bidang miring yang melingkar, kami akhirnya berada di dalam halte busway kota.

Cape tapi Hepihepitralala

Sekali lagi kami merogoh saku celana mencari uang untuk membeli tiket. Setelah membayar, kami segera masuk dengan menggunakan dua buah kartu yang kami terima. Antrian panjang menunggu kami di dalam.

Setelah menunggu, dan berjuang untuk bisa merangsek maju menuju pintu halte, akhirnya kami berhasil masuk salah satu Busway dan mendapatkan tempat duduk di belakang supir. Tampaknya ini akan menjadi akhir petualangan kami di kota tua Batavia. Dengan kaki yang pegal, lutut yang lemas, dan tubuh yang lelah, kami membawa pulang hati yang penuh rasa suka cita. Walaupun kami tidak berhasil mengunjungi semua museum yang pada hari ini tutup, namun petualangan hari ini cukup menyenangkan. Kami berjanji untuk kembali lagi ke Batavia suatu hari nanti, tentunya pada hari dimana museum-museum itu buka. Waktu menunjukkan pukul 2 siang, dan kami akan kembali pulang.

Berangkaaaat!

Cuaca pagi itu begitu cerah, langit biru berhias awan putih bagai kapas, menemani sinar matahari yang menebar hangat ke penjuru bumi. Melupakan sejenak badai yang datang malam sebelumnya, yang masih meninggalkan sisa sisa lembab menggantung di udara.

Pukul 08.50 waktu Indonesia bagian barat, kami beranjak keluar dari rumah kami yang turut tersiram badai itu, menikmati segarnya pagi dan cahaya mentari. Melangkahkan kaki menyusuri jalan Pejaten Barat II, dengan senyuman tersungging di bibir dan perasaan bahagia terselip dalam hati.

Hari ini kami akan pergi menuju Batavia! yang 100 tahun lalu berdiri tegak berjaya di utara kota Jakarta -meskipun Jakarta baru berkembang selama puluhan tahun kemudian. Setelah sekian lama bercita-cita ingin pergi ke sana, menikmati suasana kota tua, berdiri diantara gedung-gedung lama saksi bisu hadirnya penguasa pada zamannya. Akhirnya, hari ini kami berangkat!

Beberapa langkah sebelum kami sampai di persimpangan jalan Pejaten Barat, sebuah angkot S11 berwarna merah melesat. Sesaat kami mengangkat tangan menghentikannya, dan sekejap itu pula angkot merah itu melambat dan berhenti beberapa meter setelah persimpangan. Kami berlari kecil menghampirinya, lalu naik bergabung dengan beberapa orang yang sudah ada di dalam sebelumnya.

Kami naik angkot itu hingga halte busway Jati Padang, lalu turun dan menaiki tangga menuju loket. Suasana persimpangan Jati Padang pagi itu cukup ramai, walau tak seramai hari kerja. Pengendara sepeda motor bersahutan meminta mobil-mobil di depannya melaju lebih cepat atau memberi jalan, dan pengemudi metro mini tak mau kalah menghalangi.

Menuju busway

Selembar uang lima ribu rupiah dan selembar dua ribu rupiah meluncur keluar dari dompet dan kami sodorkan pada penjaga loket. Lalu dua lembar tiket disodorkan pada kami. Dua lembar tiket itu hanya mampir sebentar di genggaman, karena tiga puluh detik kemudian harus kami berikan pada petugas lain yang menjaga pintu menuju ruang tunggu.

Pukul 09.15, bus yang kami tunggu akhirnya datang, berhenti sejenak menunggu beberapa orang termasuk kami untuk masuk. Kami pun masuk melalui pintu belakang. Saat mata masih mencari tempat duduk kosong, bus bergerak dengan gerakan menghentak. Tubuh kami bagai rapuh hampir rubuh, menggapai untaian “arm hanger” dan mencoba menjaga keseimbangan dengan bersandar satu sama lain. Lalu bus pun berjalan, kami bertahan, menyadari tidak ada satupun kursi yang kosong saat itu..

Pukul 09.40, kami turun di halte Dukuh Atas 2 lalu berjalan meniti jembatan penghubung menuju halte Dukuh Atas 1. Disana kami kembali mengantri, menanti bus selanjutnya yang akan membawa ke arah utara, untuk kemudian turun di halte pemberhentian terakhir: Halte Kota.

Ketika tiba di Halte Kota, kami melangkahkan kaki keluar dari bus dan  menyadari bahwa cuaca tak cerah seperti sejam sebelumnya waktu kami masih berada di wilayah selatan. Saat itu pukul 10.07. Kami beranjak ke sudut halte lalu memandang sekeliling.

Di barat, awan hitam tampak menggantung di langit, di atas Museum Bank Mandiri yang bagai berdiri sendiri. Tampak sedikit angkuh dia menghadap ke timur menantang Stasiun Kota yang ada di hadapannya.

Museum Mandiri, 2010

Gedung Museum Bank Mandiri ini dahulu adalah gedung De Nederlandsche Handel-Maatschappij, di Hindia Timur yang lebih dikenal dengan nama de Factorij Batavia, sebuah perusahaan dagang milik Belanda, badan operasi sistem tanam paksa yang merupakan reinkarnasi VOC[1] yang berkembang menjadi perusahaan perbankan. Gedung ini dibangun tahun 1929 dan dibuka secara resmi pada 14 Januari 1933 Oleh C.J Karel Van Aalst, Presiden Nederlandsche Handel-Maatschappij ke-10.[2]

Bajaj Di Depan Stasiun Beos, 2010

Pandangan kami beralih ke arah timur. Disana berdiri tak kalah tegasnya Stasiun Kota, atau stasiun BEOS. Bangunan yang didirikan sekitar tahun 1870 in pernah ditutup pada tahun 1926 untuk direnovasi. Renovasi tersebut selesai pada tanggal 19 Agustus 1929, dan secara resmi digunakan kembali pada 8 Oktober 1929.[3]

Kami pun beranjak meninggalkan halte tempat kami turun tadi, bergerak ke arah timur, sambil menengok ke arah kiri dan melihat gedung Bank Mandiri Kanwil III Jakarta Kota. Pandangan kami terhalang pepohonan yang tumbuh di taman dan depan gedung bekas De Nederlandsch-Indische Handelsbank tersebut. Keberadaannya melengkapi jejeran gedung yang ”mengepung” taman di depan BEOS dari tiga arah – utara, timur dan barat.

Ramp Halte Busway Kota

Taman di depan BEOS ini kini telah banyak mengalami sentuhan modern, perjalanan kami untuk keluar dari taman mengharuskan kami untuk melalui jalan bawah tanah. Untuk menuju jalan bawah tanah itu sendiri, kami harus melalui sebuah bidang miring yang melingkar (ramp), dengan bagian tengahnya terbuka (void). Sebuah lubang besar yang dibuat pada permukaan taman. Di ujung bawah terdapat dua arah tujuan. Lorong ke timur untuk menuju Stasiun Kota, dan lorong ke barat untuk menuju trotoar di depan Musium Bank Mandiri.

Kami bergerak menyusuri ramp tersebut dan berbelok melewati lorong yang membentang di bawah Binnennieuwpoortstraat (Jalan Pintu Besar Utara) kemudian berbelok ke selatan, menaiki tangga.

Beberapa saat kemudian, kami sudah ada lagi di permukaan, melangkah di atas trotoar, menuju pintu masuk Museum Bank Mandiri. Sesaat kami metatap langit. Awan hitam yang tadi sudah ada kini tampak lebih nyata, namun kami berharap hujan tak akan turun dulu. Perjalanan kami baru akan dimulai!


[1] situskotatua.com – Alwi Shahab: Saudagar Baghdad dari Betawi, hal. 135

[2] Wikipedia

[3] Ibid 2

1# WE ARE COMING!

Posted: May 6, 2010 in Saat Berdua
Tags:

Coming to our new place called home

Coming to our new people called family

Coming to our new life

Coming  to our new happiness

Coming to our new us

Insya Allah… :)

Our Wedding